Sejarah Desa

1779353127320.jpeg
Gambar: desa Long ketaman ( Kasing Luat ) Sumber: https://longketaman.desa.id/

Uma’ Alim merupakan salah satu subkelompok Dayak Kenyah yang secara historis bermukim di Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Menurut riwayat asal-usulnya, mereka berasal dari Sungai Payang, kemudian berpindah ke Long Pulo di Sungai Jelet, Long Metep di Sungai Aran, hingga akhirnya menetap di kawasan Sungai Ketaman. Long Ketaman kemudian dikenal sebagai permukiman utama masyarakat Uma’ Alim. Jejak keberadaan masyarakat Kenyah pada masa lampau juga dikaitkan dengan situs pemakaman gua yang dikenal sebagai lizang bila, yang ditemukan di sepanjang Sungai Pujungan dan anak-anak sungainya.

Long Metep memiliki arti penting dalam sejarah Uma’ Alim karena menjadi tempat tinggal mereka di bawah kepemimpinan Jalung Ipui. Pada masa itu, masyarakat masih menganut kepercayaan tradisional yang mengenal sosok Bali Nyelung Luan. Masuknya agama Kristen melalui penginjilan pendeta George Fisk dari Amerika menjadi titik perubahan dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Dalam riwayat setempat, Jalung Ipui disebut sebagai orang pertama yang dibaptis, dan kedudukannya sebagai pemimpin adat turut memengaruhi penerimaan agama Kristen oleh masyarakat lainnya.

Uma’ Alim juga memiliki peranan penting dalam kepemimpinan adat di Pujungan. Salah satu tokoh terkenalnya adalah Lian Turan, yang dikenal sebagai pemimpin kelompok-kelompok Kenyah di wilayah tersebut dan disebut diangkat oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai Kepala Besar Pujungan pada 1930. Setelah wafatnya Lian Turan, kepemimpinan dilanjutkan oleh Jalung Ipui pada 1941, kemudian Angit Ingan dari Uma’ Lasan pada 1948. Tokoh lain yang disebut dalam riwayat kepemimpinan berikutnya adalah Mering Ncau sekitar 1969 dan Saul Jalung sejak 2017.

Sejarah Uma’ Alim memperlihatkan perjalanan panjang perpindahan permukiman, perubahan kepercayaan, dan keterlibatan mereka dalam kepemimpinan adat. Hubungan mereka dengan Uma’ Lasan dan kelompok Kenyah lainnya menunjukkan bahwa sejarah masyarakat Pujungan terbentuk melalui interaksi antarkelompok yang memiliki tradisi dan ikatan adat bersama. Warisan sejarah tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Utara.

 

Bagikan post ini: