Sejarah Desa
Uma’ Alim merupakan salah satu subkelompok Dayak Kenyah yang secara historis bermukim di Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Menurut riwayat asal-usulnya, mereka berasal dari Sungai Payang, kemudian berpindah ke Long Pulo di Sungai Jelet, Long Metep di Sungai Aran, hingga akhirnya menetap di kawasan Sungai Ketaman. Long Ketaman kemudian dikenal sebagai permukiman utama masyarakat Uma’ Alim. Jejak keberadaan masyarakat Kenyah pada masa lampau juga dikaitkan dengan situs pemakaman gua yang dikenal sebagai lizang bila, yang ditemukan di sepanjang Sungai Pujungan dan anak-anak sungainya.
Long Metep memiliki arti penting
dalam sejarah Uma’ Alim karena menjadi tempat tinggal mereka di bawah
kepemimpinan Jalung Ipui. Pada masa itu, masyarakat masih menganut kepercayaan
tradisional yang mengenal sosok Bali Nyelung Luan. Masuknya agama Kristen
melalui penginjilan pendeta George Fisk dari Amerika menjadi titik perubahan
dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Dalam riwayat setempat, Jalung Ipui
disebut sebagai orang pertama yang dibaptis, dan kedudukannya sebagai pemimpin
adat turut memengaruhi penerimaan agama Kristen oleh masyarakat lainnya.
Uma’
Alim juga memiliki peranan penting dalam kepemimpinan adat di Pujungan. Salah
satu tokoh terkenalnya adalah Lian Turan, yang dikenal sebagai pemimpin
kelompok-kelompok Kenyah di wilayah tersebut dan disebut diangkat oleh
pemerintah kolonial Belanda sebagai Kepala Besar Pujungan pada 1930. Setelah
wafatnya Lian Turan, kepemimpinan dilanjutkan oleh Jalung Ipui pada 1941,
kemudian Angit Ingan dari Uma’ Lasan pada 1948. Tokoh lain yang disebut dalam
riwayat kepemimpinan berikutnya adalah Mering Ncau sekitar 1969 dan Saul Jalung
sejak 2017.
Sejarah
Uma’ Alim memperlihatkan perjalanan panjang perpindahan permukiman, perubahan
kepercayaan, dan keterlibatan mereka dalam kepemimpinan adat. Hubungan mereka
dengan Uma’ Lasan dan kelompok Kenyah lainnya menunjukkan bahwa sejarah
masyarakat Pujungan terbentuk melalui interaksi antarkelompok yang memiliki
tradisi dan ikatan adat bersama. Warisan sejarah tersebut menjadi bagian
penting dari identitas masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Utara.